ANALISIS PENGANGGURAN DI INDONESIA

PAPER

ANALISIS PENGANGGURAN DI INDONESIA

Seiring dengan perkembangan zaman masalah-masalah sosial yang terjadi saat ini sangatlah kompleks. Dari mulai masalah-masalahyang yang sangat kecil dampaknya bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan yang kecil pula untuk menanganinya, hingga masalah-masalah sosial yang sangat rumit serta memberikan dampak dan penagruh besar bagi kehidupan sosial. Dari yang berupa masalah yang terkait dengan masalah pelanggaran norma, hingga permasalahan yang berupa masalah perekonomian. Semua masalah-masalah itulah yang hingga saat ini masih ada dan terus dirasakan oleh hampir setiap Negara di dunia ini, terutama adalah bagi hegara miskin dan berkembang. Peran aktif pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kekuasaan sebuah Negara menjadi sangat penting dan menjadi harapan utama rakyatnya untuk mencapai kemakmuran. Namun seringkali dalam perjalanan sejarah umat manusia masalah-masalah sosial yang muncul tidak mampu teratasi dan mengakibatkan sebuah Negara dapat terpuruk.

Masalah perekonomian merupakan masalah yang lazim dihadapi manusia saat ini. Karena pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup terlepas dari ekonomi. Masalaah ekonomi yang muncul juga tidak lepas dari masalah kependudukan yang saat ini masih melanda sebagian besar negara-negara yang masih tergolong miskin dan berkembang, terutama adalah masalah pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Dengan adanya petumbuhan penduduk yang semakin pesat maka kesempatan seorang individu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi sangat sempit. Menurut Malthus populasi manusia bertambah lebih cepat bila dibandingkan dengan produksi bahan makanan. Pertumbuhan populasi manusia berjalan seperti deret ukur yang semakin lama semakin bertambah dengan perbandingan dua kali lipat (1,2,4,8,16…). Sedangkan bertambahnya bahan makanan seperti deret hitung (1,2,3,4…). Dengan demikian maka akan menumbuhkan persainganantar manusia untuk memperoleh sumber daya yang jumlahnya sangat minim apabila dibandingkan dengan jumlah populasi manusia. Dengan adanya persaingan tersebut maka ada sebagian manusia yang tersisih dan tidak akan mendapatkan bahan makanan.

Pada perkembangan selanjutnya manusia mampu menciptakan berbagai macam teknologi baru yang mampu digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan manusia dala berbagai bidang, baik pertanian, pertambangan, transportasi dan industri. Tujuan utama diciptakannya teknologi oleh manusia ini sebenarnya adalah untuk memudahkan manusia itu sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonominya. Dalam bidang pertanian misalnya setelah ditemukannya berbagi teknologi pertanian yang berupa bibit unggul hasil persilangan, pupuk kimia, pertisida untuk menangani berbagai macam hama dan penyakit, serta insektisida yang berguna mengurangi hama berupa serangga diharapkan mampu meningkatkan produksi bahan makanan, sehingga petumbuhan penduduk yang terjadi semakin pesat hingga saat ini akan tetap dapat didimbangi dengan peningkatan produksi bahan makanan, bahkan dalam pertanian diharapkan mampu mengalami surplus bahan makanan. Sedangkan dalam bidang indutri, dengan adanya teknologi yang berupa mesin-mesin produksi mekanik maka manusia akan dengan mudah memproduksi barang dan mampu membentuk suatu sistem ekonomi yang baru yang kebih meyakinkan dan akan mampu menyerap angkatan kerja baru apabila dibandigkan dengan pertanian.

Namun, dengan kemunculan teknologi-teknologi baru ini yang semula diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat, dan mampu menyerap banyak yenaga kerja dari masyarakat. Justru yang terjadi adalah walaupun manusia mampu menciptakan teknologi dan semakin lama berkembang dalam berbagai bidang dengan semakin pesat, tetap saja tidak mampu menyerap pertambahan populasi manusia yang tentunya semakin menambah pula jumlah tenaga kerja. Dalam bidang pertanian misalnya, dengan ditemukannya teknologi mesin pengolahan tanah yang berupa traktor maka mengakibatkan para pekerja pertanian atau buruh tani yang tadinya mengolah sawah dengan cara mencangkul menjadi tergantikan peranya dan tidak mempunyai pekerjaan lagi. Sedangkan pada sektor industri misalnya dengan adanya mesin-mesin produksi yang semakin lam berkembang menjadi semakin pesat, maka peran manusia yang tadinya sangat dibutuhkan dalm proses produksi menjadi tidak lagi bagitu penting dan sangat kecil . Dengan kata lain peran manusia dalam kegiatan produlsi barang menjadi tergantikan dengan mesin-mesin produksi. Dengan demikian maka sebuah pabrik tidak lagi membutuhkan tenaga kerja yang banyak dalam proses produksinya dan tidak mampu menyerap angkatan kerja yang ada.

Dibawah sistem mekanisme mesin, ritme hidup manusia tidak lagi ditentukan oleh alam tapi dibawah komando mesin. Orang tidak seenaknya lagi kerja tapi semuanya diatur oleh mekanisme produksi(Save M Dagun, 1992, 8)

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa sebenarnya sebagai konsekuensi utama dengan adanya pertambahan penduduk ini adalah munculnya tenaga kerja yang dengan jumlah semakin bertambah besar dari waktu ke waktu, yang sebebarnya semua itu dipengaruhi oleh tingkat kelahiran (fertilitas) dan tingkat kematian (mortalitas). Apabila dalam sebuah Negara tingkat kelahirannya sangat cepat dan tingkat kematian sangat sedikit maka akan menimbulkan suatu ledakan populasi penduduk yang juga tentunya akan menambah kuantitas tenaga kerja. Sedangkan di Negara berkembang seperti Indonesia yang terjadi adalah tingkat kelahiran masih tetap pesat dan tingkat kematianpun juga masih tinggi karena minimnya penanganan  masalah kesehatan, Walaupun, tingkat kematian juga masih tinggi, bertambahnya jumlah penduduk melalui proses kelahiran di dalam Negara miskin dan berkembang masih sangat pesat dan tetap saja mengakibatkan ledakan penduduk.

Indonesia sebagai Negara yang berkembang dengan mayoritas penduduknya masih bekerja dalam sektor agraris seperti pertanian dan perkebunan yang dikelola  baik secara modern maupun tradisional tentunya akan sangat terpengaruh dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin pesat ini. Bagaimana tidak karena dengan adanya pertambahan penduduk yang semakin pesat tentunya menimbulkan tumbuhnya tenaga kerja yang ingin memperoleh kesempatan kerja. Padahal sektor agraris yang ada saat ini tentunya tudak bisa menampung tenaga kerja yang ada, terutama diakibatkan karena kurangnya lahan yang semain lama semakin sempit dengan adanya pembangunan, terutama pembangunan secara fisik.

Jalan utama untuk para tenaga kerja adalah berusaha untuk memasuki dunia pekerjaan dalam sektor industri. Padahal kita tahu saat ini untuk masuk sektor industri dilakukan seleksi yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat memasuki sektor industri. Pendidikan yang cukup menjadi syarat utama, padahal saat ini banyak anak muda yang putus sekolah dan bahkan masih ada yang tidak bersekolah. Ditambah lagi perluasan kesempatan kerja yang ada berjalan dengan sangat seret dan tidak mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja ini. Dengan demikian sebagai konsekuensi akhir, yang tidak dapat dihindarkan lagi adalah munculnya pengangguran baik pengangguran terbuka maupun pengangguran yang terselubung yang tentunya akan mempengaruhi berjalannya sistem perekonomian di Indonesia.

Sebagai Negara berkembang, masalah pengangguran di Indonesia sudah masih tergolong tinggi. Pada tahun 1980 tercatat jumlah pengangguran terbuka di Indonesia sudah mencapai angka 1.70 juta jiwa, daan pada tahun 2006 jumlah pengangguran di Indonesia mencapai prosentase 12,5% (Wikipedia,com). Dan dari data BPS pada tahun 2008 di Indonesia masih tercatat penggangguran terbuka di Indonesia mencapai angka 9,39 juta jiwa.atau 8,46% dari total angkatan kerja di Indonesia. Jumah pengangguraan terbuka terbesar didomonasi oleh lulusan SMK sebesar 17,26% dari jumlah total pengangguran di Indonesia. Dan penyerapan tenaga kerja terbesar hanya terjadi pada sektor informal saja. Jumlah pengangguran tersebut terus bertambah hingga saat ini.

Jumlah pengangguran di Indonesia ini masih sangat memprihatinkan, mengingat saat ini Indonesia sebagai Negara yang masih berkembanag dan belum mencapai pada msa kemajuannya harus menghadapi munculnya perdaganagan bebas dimana setiap Negara leluasa untuk memasarkan hasil produksinya ke Negara manapun. Dengan masih banyaknya jumlah pengangguran ini maka tentunya akan mempengaruhi pula pada peningkatan perekonomian Negara, sehingga ekonomi Indonesia akan melemah dan mengakibatkan Indonesia tidak mampu bersaing dengan Negara lain dan perekonomian Indonesia akan menjadi semakin terpuruk. Karena bagaimanapun peran seorang individu dalam sebuah sistem kemasyarakatan dalam hal ini perekonomian sangat penting perannya dan mempengaruhi segakla system yang ada, dan apabila ada satu sala sistem yang tidak berjalan dalam masyarakat maka akan mempengaruhi pula sistem-sistem yang lain serta pemeliharaan system-sistem tersebut sangat diperlukan(Talcott Parsons, dalam George Ritzer).

Pengangguran di Indonesia paling banyak terjadai di pedesaan yang masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian utama penduduknya. Karena pada saat ini jumlah lahan yang ada di pedesaan untuk pertanian semakin sempit akibat dengan adanya proses pembangunan fisik yang saat ini banyak terlihat di pedesaan bahwa makin banyak sawah ataupun perkebunan yang beralih fungsi menjadi pemukiman, ditambah lagi pola pertanian masyarakat tradisional yang masih bersifat subsisten dan tradisional. Inilah yang mengakibatkan mengapa pengangguran yang paling banyak terjadi di pedesaan. Booth dan Sandrum (dalam Effendi, 1995 : 175) mengungkapkan bahwa hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan sekitar 80% angkatan kerja yang ada di Indonesia ada di pedesaan, dan hal tersebut masih terjadi hingga saat ini.

Dengan munculnya permasalahan sosial berupa pengangguran tersebut maka pmenimbulkan berbagai permasalahan yang antara lain bagaimana pengangguran di Indonesia menjadi sangat rumit dan tergolong masih tinggi. Dengan jumlah angka pengangguran yang tinggi ini tentunya akan menimbulkan dampak bagi masyarakat Indonesia adan sisitem-sistem yang ada. Sertya bagaimanakah upaya yang tepat yang dapat dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta menurut cara pandang sosiologis untuk mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.

Teori-teori yang dapat digunakan untuk menganalisis pengangguran di Indonesia:

 

  1. 1.         Teori kependudukan dari Malthus

Pokok teori Malthus ini adalah pemikiran bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Dalam dia punya esai yang orisinal, Malthus menyuguhkan idenya dalam bentuk yang cukup kaku. Dia bilang, penduduk cenderung tumbuh secara “deret ukur” (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara “deret hitung” (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dalam karya-karyanya yanag terbit belakangan, Malthus menekankan lagi tesisnya, tetapi tidak sekaku semula, dengan hanya berkata bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Dari kedua bentuk uraian tesis itu, Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan kejeblos ke dalam kemiskinan kelaparan. Dalam jangka panjang, tak ada kemajuan teknologi yang dapat mengalihkan keadaan itu, karena kenaikan suplai makanan terbatas, sedangkan “pertumbuhan penduduk tak terbatas, dan bumi tak mampu memprodusir makanan buat menjaga eksistensi manusia.”

Apabila ditelaah lebih dalam teori Malthus ini yang menyatakan  penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan, dan hal ini menimbulkan manusia saling bersaing untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya dengan cara mencari sumber makanan, dengan persaingan ini maka aka nada sebagian manusia yang tersisih dan tidak mampu lagi memperoleh bahan makanan. Pada masyarakat modern dapat diartikan bahwa dengan semakin pesatnya jumlah penduduk menghasilkan angkatan kerja yang semakin banyak pula, namun hal ini tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang ada. Karena jumlah kesempatan kerja yang semakin sedikit itulah kemudian antara individu satu dengan yang lain saling bersaing untuk memperoleh pekerjaan, dan yang tersisih dalam persaingan tersebut menjadi golongan penganggur. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori ini bisa digunakan untuk menganalisis tentang pengangguran.

 

 

 

  1. 2.      Teori fungsionalisme struktural

Teori fungsionalisme struktural menganggap bahwa masyarakat sebagai sebuah organisme biologis yang mempunyai organ-organ yang saling berkaitan. Masyarakat seperti organism tersebut dinyatakan sebagai sistem-sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan saling tergantung, apabila satu bagian rusak atau tidak barjalan maka hal ini akan mempengaruhi sistem yang lain, Menurut Spencer (dalam Poloma, 1984: 24) Masyarakat sebagai suatu organism hidup adalah sbb:

  • Masyarakat dan organism hidup sama-sama mengalami pertumbuhan bersama-sama berubah dan tumbuh
  • Karena disebabakan oleh pertumbuhan dalan ukurannya maka struktur sosial maupun organisme mengalami pertumbuhan pula,
  • Tiap bagian yang tumbuh dari organism biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuana tertentu dan tumbuh menjadi organism yang berbeda dengan tugas masing-masing yang berbeda pula.
  • Perubahan yang ada dlam suatu bagian dalam keduanya akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan akhirnya akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain.
  • Bagian tersebut walaupun saling berkaitan dan merupakan struktur mikro yang dapat dipelajari terpisah.

Dalam kaitannya dengan masalah pengangguraan di Indonesia dengan menggunakan perspektif fungsionalisme structural ini maka dapat dikatakan bahwa dengan semakin banyaknya pengangguran dalam masyarakat maka akan mempengaruhi berbagai macam system yanag ada dalam masyarakat tersebut. Dalam hal ini adalah system ekonomi akan menjadi sangat lemah, kemudian akan mempengaruhi sistem yang lain seperti sistem politik, karena dengan adanya pengangguran yang semakin besar maka akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang ada menjadi semakin berkurang dan pemerintah dianggap gagal..

  1. 3.      Teori Modernitas atau modernisasi

Poggi (1993) Berdasarkan karya George Simmel tentang pandangannya mengenai modernitas (Dalam Ritzer 2003: 551) menyatakan bahwa dalam modernitas; pertama, dapat memberikan keuntungan bagi manusia karena dengan adanya modernisasi manusia mampu mengungkapkan berbagai potensi yang masih tersembunyi dan belum diketahui sebelumnya. Kedua, Besarnya pengaruh uanag dan materi dalam masyarakat modern. Ketiga, akibat merugikann yang dapat dtimbulkan uang dan modernitas.

Dengan adanya modernisasi terutama dengan penemuan berbagai macam teknologi baru yang mempengaruhi manusia menyebabkan manusia masa kini atau lebih sering disebut sebagai manusia modern menjadi mampu mengetahui berbagai macam hal dan meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut manusia saat ini menjadi manusia yang sangat terpengaruh dengan industri yang pada akhirnya hanaya menginginkan menambah materi dan uang yang menjadi sangat mempengaruhi masyarakat. Dan pada akhirnya setiap individu yang ingin mengejar materi dan uang tersebut bersaing satu sama lain terutama untuk mamperoleh kesempatan dalam perindustrian, namun ada sebagian individu yang tersisih dakampersaingan tersebut dan menjadi kaum penganggur dalam masyarakat industri.

Sedangkan menurut Rostow tentang pembangunan yang meliputi 5 tahap pembangunan masyarakat:

  • Masyarakat tradisional: Saat ilmu pengetahuan masih terbatas sehingga produksi terbatas, dan biasanya hanya mengandalkan factor alam.
  • Prakondisi untuk lepas landas: Biasanya terpengaruh oleh masyarakat luar dengan adanya pembaruan dan penemuan
  • Lepas landas ; Tabungan dan investasi meningkat, tumbuh teknik baru dalam pertanian dan teknologi baru dalam industri.
  • Bergerak ke dedewasaan: Industri berkembang pesat, perlu penanganan dalam mengatasi kependudukan, namun dalam masa ini Negara mampu memproduksi barang yang tadinya impor.
  • Zaman konsumsi masal ; Pada masa ini pembangunan terjadi secara berkesinambungan dan terus menerus.

Dari apa yang dikemukakan Rostow pada masyarakat yang berada dalam praakondisi lepas landas dan lepas landas biasanya masih terjadi berbagai macam permasalahan sosial yang salah satunya adalah pengangguran. Karena pada masa itu merupakan peralihan dari masyarakat yang bercorak agraris menu masyarakat industri, dimana lahan pertanian menjadi semakin sempit, namun individu masih belum mampu dan terampil sebagai tenaga kerja dalam industri. Sehingga menciptakan keadaan banyaknya pengangguran yang muncul.

  1. 4.      Teori Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian

Berawal dari analisis Marx pada awal abad 20 tentang struktur dan proses ekonomi yang dapat dibayanagkan sebagai sistem kapitalisme kompetitif. Industri kapitalis yang ada pada zaman itu tergolong masih kecil dan belum ada satupun yang memegang perekonomian dan mengendalikan pasar. Namun Marx yakin pada suatu saat apabila kapitalisme sudah muncul dengan demikian pesatnya maka akan memunculkan kompetisi antar industri yang menjadai semakin pesat dan kemudian menghasilkan sistem monopoli dari industri yang paling kuat dalam persaingan tersbut. Dengan munculnya monopoli modal ini maka akan ada satu perusahaaan besar yang akan mengendalikan perusahaan-perusahaan lain dalam perekonomian kapitalis.

Dalam pengembangan analisis Marx yang dianut oleh para penganut Marxian yang baru ini konsep “kelas buruh “ tidak mendeskripsikan sekelompok orang atau sekelompok pekerjaan tertentu, tetapi lebih merupakan pembelian dan penjualan tenaga kerja. Parab tenaga kerja tidak mempunyai alat produksi sama sekalin sehingga segolongan orang terpaksa menjual tenaga mereka kepada sebagian kecil orang yang mempunyai alat produksi (Baverment dalam Ritzer 2003:195).

Dari uraian diatas maka dapaat kita telaah lagi bahwa dengan adanya pergantian antara sistem kapitalis kompetitif menjadi kearah sistem kapitalis monopoli, maka akan terdapat sebagian perusahaan yang masi tidak mampu bersaing dan menjadi terpuruk. Apabila semua proses produksi dan pemasaran semua terpengaruh oleh sebuah perusahaan raksasa saja, maka aakan mengakibatkan perusahaan kecil menjadi sangat sulit dan hal pamasaran, bisa saja perusahaan kecil tersebut mengalami kebangkrutan dan tidak lagi mampu menggaji pekerjanya. Setelah perusahhan tersebut tidak mampu baroperasi lagi, maka para pekerja yang semula bekerja dalam perusahaan tersebut menjadi tidak mempunyai pekerjaan lagi. Kemudian akhirnya pekerja tersebut menjadi pengangguran.

Keempat teori tepat untuk menganalisis dan mencoba memecahkan masalah pengangguran di Indonesia.

1)      Pengertian pengangguran

Pengangguran merupakan keadaan dimana dalam sebuah masyarakat, sebagian warganya tidak mampu memasuki kesempatan kerja yang ada, sehingga ia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan ekonominya. Secara alami pengangguran terjadi karena pada saat kesempatan kerja penuh (full employment) dimana 95% angkatan kerja dalam waktu tertentu sepenuhnya bekerja, angkatan kerja yang belum masuk dalam kesempatan kerja tersebut berarti menganggur. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

2)      Jenis & macam pengangguran:

  • Pengangguran Friksional / Frictional Unemployment: Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerna penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment: Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.
  • Pengangguran Siklikal ; Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.

Pengangguran di Indonesia paling banyak berada di pedesaan, bahkan berdasarkan sensus penduduk pada tahun 1980 menenjukkan bahwa seketar 805 angkatan kerja yang ada di Indonesia berada di pedasaan. Hal ini tidak lepas dari makin sempitnya lahan pertanian yang ada di pedesaan yang beralih fungsi. Padahal sektor pertanian merupakan sektor yang mampu menampung angkatan kerja di desa. Semakin sempitnya lahan pertanian yang ada di pedsaan ini juga tidak lepas dari sistrm pewarisan dengan pembagian tanah yang dilakukan petani pedesaan. Misal seorang petani mempunya tanah seluas 1 ha dan dia mempunyai dua orang anak, maka masing-masing anak mereka akan memperoleh ½ ha sebagai harta waris nantinya dan ini akan dilakukan secara turun menurun. Sehingga pada suatu saat seorang akan mengolah pertanian yang sangat sempit. Dengan demikian maka aka nada dua kemungkinan:

  • Orang tersebut tetap di desa, menyebabkan disguised unemployment jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian di desa lebih besar daripada sumber daya dan factor produksi, sehingga tenaga kerja pertanian menjadi setengah menganggur.
  • Mereka akam pergi dari desa menuju tempat lain ubtuk memperoleh pendapatan (urbanisasi)

Selain itu pertanian di daerah pedesaan juga masih bersifat peasant dan subsistensi. Peasant dan subsistensi merupakan gambarab tebang kondisi sosial masyarakat pedesaan. Peasant merupakan ketidakberhasilan yang kemudian menjadi kebiasaan dan melembaga menjadi tata nilai umum yang berlebih pada kekurangan. Sedangkan subsistensi merupakan kegiatan usaha tani yang hanya cukup untuk kepentingan makan saja yang sebenarnya merupakan ketidakerdayaan. Namun dengan rendahnya kualitas sumber daya lahan mengakibatkan tingginya tingkat biaya produksi yang harus dikeluarkan petani, proses produksi kurang efisien dan terjadi keterbatasan penguasaan lahan. Pergeseran fungsi lahan dan bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan menurunnya kesempatan kerja dan terjadilah penganagguran. Padahal, apabila dikelola dengan baik sektor pertanian dapat menopang perekonomian Nasional dan mampu menampung tenaga kerja serta mampu menghasilkan surplus bahan makanan untuk ekspor dan sebagai bahan baku industri. Pertanian di Indonesia yang melimpah akan kekeyaan alam Indonesia dengan tanah yang subur sebenarnya merupakan sektor yang unik dank has dalam perekonomian Nasional.

Dalam mengatasi penganagguran ini peran pemerintah sebenarnya masih sangat kurang, ditambah lagi dengan adanya ketimpangan struktur masa lampau dan masa kini. Menurut Abu Ahmadi ketimpangan tersebut antara lain:

a)      Pola pemekiman penduduk di Jawa dan diluar Jawa

b)      Ketimpangan pembangunan antar daerah

c)      Ketidakserasian laju pembanguna kota dan desa

d)     Kurangnya informasi pasar tenaga kerja, terutama di pedesaan

e)      Kurangya penyesuaian pendidikan dengan arah pembangunan

f)       Kurangnya koordinasi investasi padat modal dan padat karya

g)      Ketimpangan produktifitas sektor pertanian dan non pertanian

h)      Kekurangserasian tumbuhnya sektor formal dan informal

i)        Masalah penagangguran terbuka dan terselubung

j)        Ketimpangan peranan pemerintah da swasta

Masalah pengangguran tersebut sebenarbya tidak dapat dipusahkan dari pembangunan bidang lain, karen itu harus melihat latar belakang semua bidang yang melingkupinya dan jangan sampai terjadi ketimpangan tersebut yang justru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri. Pengangguran mungkin hanya satu dari beberapa masalah yang dialami Indonesia dan pemerintah harusnya hendak mengatasinya. Karena kalau satu dari masalah-masalah yang ada tidak diselesaikan maka akan muncul masalah lain yang saling berkaitan. Pada masalah pengangguran ini saja misalnya, dapat manimbulkan masalah sosial lain yang antara lain kemiskinan, kriminalitas, dan munculnya masalah perotaan berpa munculnya kawasan kumuh sebagai akibat dari urbanisasi karena di pedesaan sudah semakin sempitnya lapangan pekerjaan.

Menurut Ninik Widyanti (1995) kemajuan dalam masyarakat modern sehingga memunculkan keadaan dimana individu yang tidak terserap dalam lapangan kerja maka mengakibatkan keinginan untuksama-sama menikmati hidup dan kemajuan IPTEK serta godaan dari pihak yang menonjolkan advirtensi bagi kebanyakan masyarakat. Sehingga individu yang tidak terserap dalam lapangan kerja tesebut cenderung melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum.

3)      Solusi dan Penanganan Masalah Pengangguran

Penanganan masalah pengangguran ini dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, dimana pihak pemerintah, swasta dan masyarakat sendiri harus berperan secara aktif dalam mengatasi masalah ini.

  1. Peran Pemerintah dalam mengatasi pengangguran:

Salah satu peran pemerintah dalam pengelolaan pembangunan adalah penanggulangan masalah pengangguran dan. Dimana pengelolaan utama yang dilakukan pemerintah adalah untuk menangani masalah buruh, tata guna lahan di pedesaan dan pemajakan serata penyerapan tenaga kerja, Selama ini peran pemerintah sebenarnya sudah ada, terlihat dengan adanya berbagai lembaga yang dibentuk pemerintah dalam menyalurkan tenaga kerja. Lembaga tersebut ada yang bergerak untuk menyalurkan tenaga kerja di perusahaan dalam negeri, perusahaan BUMN, maupun penyaluran tenaga kerja yang ada di luar negeri. Walaupun demikian peran pemerintah ini masih dianggap belum maksimal. Hal ini, terlihat pada pelaksanaan yang ada pada saat ini dimana l;embaga penyalurab tenaga kerja yang ada hanya dalam pelaksanaannya masih kurang berjalan dengan baik. Selain itu, pada saat ini lambaga penyaluran tenaga kerja yang paling banyak diminati adalah lembaga penyaluran tenaga kerja di luar negeri walaupun sebagai pembantu runah tangga, yang tentunya tidak mambutuhkan pendidikan tinggi sebagai persyaratannya. Namun, seolah-olah pemerintah terus menyalurkan tenaga kerja di luar negeri sebagai jalan menangani masalah penganguran di Indonesia, walaupun sudah banyak berbagai kasus yang menimpa tenaga kerja di luar negeri. Sedangkan, usaha yang dilakukan pemerintah daerah masih terlihat kurang cerdas dan imajinatif dalam penanganan masalah pengangguran di daerahnya.

Penanggulangan masalah pengangguran ini seharusnya dilaksanakan dengan memperhatikan potensi daerah masing-masing wilayah di Indonesia yang berbeda antara satu dengan yang lain. Dengan demikian maka peran pemerintah daerah dalam menangani masalah penganguran di daerahnya sendiri menjadi prioritas utama. Kaitannya dengan potensi daerah seharusnya pemerintah daerah melihat potensi tersebut ubtuk menciptakan lapangan kerja baru. Misalnya; di sebuah wilayah yang berpotensi dalam hal pariwisata pemerintah daerah harus melihat peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi warganya dengan mendirikan lembaga-lembaga pelatihan yang bergerak dalam pembuatan kerajinan tangan yang nantinya dapat dipasarkan kepada wisatawan yang datang, selain itu pemerintah daerah juga harus mengelola tempat pariwisata tersebut supaya tetap menarik dan bahkan dapat berkembang.

Pendirian usaha padat karya yang diatur pemerintah juga sangat penting, karena dengan industri padat karya ini mampu mengyerap banyak angkatan kerja di sekitar. Pemerintah juga harus memperhatikan masalah kapitalisme yang semakin lama semakin menaungi perekonomian manusia. Kapitalisme menumbuhkan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia bahkan investor asing dengan leluasa mampu menanamkan modalnya di Indonesia. Pemerintah sebagai pemegang wewenang untuk mengatur perekonomian negara harus mampu memberikan peraturan yang tegas supaya perusahaan asing yang ada di Indonesia mampu menyerap tenaga kerja Indonesia dengan kuota yang besar, tidak seperti selama ini yang justru bekerja hanya sebagai pekerja kasar bagi perusahaan asing di negeri sendiri, dan untuk duduk sebagai tenaga ahli tentunya membutuhkan pendidikan yang cukup. Sehingga, pada akhirnya pemerintah juga harus memperhatikan pendidikan demi kesejahteraan rakyatnya. Pendidikan disinai dapat berupa peningkatan mutu pendidikan formal maupun peningkatan mutu lembaga pelatihan dan penyaluran tenaga kerja.

Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terutama kepada pengusaha kecil dan menengah berupa kredit dengan bunga ringan. Dengan demikian maka usaha kecil dan menengah akan tumbuh semakin pesat dan berkembang yang tentunya akan menyerap tenaga kerja yang ada.

Apabila hal ini sudah dapat dilaksanakan maka pemerintah harus senantiasa memelihara sistem yang ada, seperti yang dungkapkan teoritisi sosiologi modern Talcott Parsons dimana setiap sistem sosial akan mengalami adaptasi atau penyesuaian diri, dalam hal ini dengan lingkungan yang semakin berubah. Kemudian diikuti dengan pencapaian tujuan yang diharapakan untuk mencapai tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara pengintegrasian masing-masing sistem dan pola. Dan yang terakhir adalah pemeliharaan sistem-sistem atau pola tersebut.

  1. Peranan pihak swasta

Dalam hal penanganan masalah pengangguran ini peran pihak swasta juga diperlukan, terutama pihak swasta harus mampu bekerja sama dengan pemerintah baik pusat maupun daerah. Dalam sebuah kebijakan pemerintah hendaknya mampu di taati dengan baik oleh pihak swasta terutama tentang tenaga kerja. Peran swasta dapat terlihat apabila perusahaan milik swasta mampu menciptakan lapangan kerja yang baru yang benar-benar menyerap banyak tenaga kerja di setiap daerah.

Pihak swasta dapat berupa pembangunan perusahaan padat karya yang akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, pihak swasta juga dapat mendirikan perusahaan-perusahaan dalam skala kecil yang mampu menyererap tenaga kerja tanpa pendidikan tinggi, karena hanya memebutuhkan sedikit ketrampilan saja melalui pelatihan-pelatian yang tidak terlalu lama. Perusahaan kecil ini sangat cocok apabila didirikan di daerah pedesaan dengan mayoritas angkatan kerjanya tidak berpendidikan tinggi. Dengan cara demikian lah maka pengangguran di desa dapat diatasi atau paling taidak dapat barkurang.

  1. Peran Sosiolog

Ahli sosiologi atau sosiolog yang tentunya peka terhadap masyarakat dan sangat menguasai konsep-konsep sosiologi tentunya diharapkan mampu berperan dalam membantu pemerintah untuk menangani masalah-masalah sosial yang ada. Dalam hal ini sosiologi dapat berperan sebagai konsultan kebujakan pemerintah. Kebijakan yang dilakukan pemerintah sering mengalami kgagalan, hal ini karena pemerintah tidak dapat mengetahui keadaan masyarakat yang ada. Karena itu peran sosiolog sangat diperlukan. Menurut Paul B Horton (1984,44) sosiolog dapat membantu meramalkan pengaruh dari suatu kebijakan dan dengan dengan demikian membantu dalam pemilihan kebijakan untuk mencapai tujuan yang dimaksud.

Selain itu sebagai ahli riset sosiologi jugs sangat membantu apa yang seharusnya dilakukan pemerintah. Menurut Jabal Tarik (2002) sosiolog sebagai ahli riset dalam hal ini mampu meneliti suatu daerah dengan pemahaman pedesaan secara cepat ( Rapid Rural System Appraisal ) yaitu merupakan penelitian keadaan pedesaan yang sifatnya cepat, fleksibel,niterative, berorientasi sistem, partisipatif, biaya efektif, dan interdisipliner. Seperti yang kita tahu bahwa jimlah pengangguran yang paling banyak adalah terdapat di pedesaan, maka apabila menggunakan cara penelitian yang demikian mala akan sangat cocok untuk menangani masalah pengangguran yang ada.

Sosolog juga dapat berperan sebagai teknisi yang terlinat dalam perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat, memberi saran dalam hubungan masyarakat, dan hubungan antar kelompok dalam hal organisasi dan  perekonomian.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pengangguran di Indonesia merupakan masalah yang harus segera ditangani. Karena kalau tidak ada penanganan yang serius maka akan menimbulkan masalah sosial yang lain antara lain kriminalitas, kemiskinan, dan munculnya arus urbanisasi yang menyebabkan munculnya kawasan kumuh diperkotaan. Peran pemerintah sebagai penentu kebijakan dan sosiolog sebagai konsultan kebijakan serta pihak swasta dalam menangani masalah ini.

Hanya sekedar saran bagi pemerintah hendaknya lebih serius dalam menangani masalah ini dan dapat menggunakan para sosiolog sebagai ahli riset dan dan konsultan kebijakan, Selain itu pemerintah bersama pihak swasta juga harus bekerja sama untuk menangani masalah pengangguran di Indonesia.

Dalam penulusan paper ini penulis sadar masih ada kekurangan, untuk itu saran dari pembaca sangat diperlukan. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Sairin, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Dagun, Save M. 1992. Sosio-Ekonomi analisis kapitalisme dan sosialisme. Jakarta: Rineka Cipta

Sukirno, Sadono. 1994. Makroekonomi. Jakarta: Rajawali pers

Ritzer, George dan Douglass J Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Hortn, Paul B dan Chester L Hunt. 1984. Sosiologi Edisi keenam. Jakarta: Erlangga

Salim, Agus. 2006. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Semarang: UNNES press

Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Tajudin Noer. 1995. Sumber Daya Manusia, Peluang kerja dan kemiskinan. Yogyakarta; Tria Wacana

Yulianti, Yayuk dan Mangku Poernomo. 2003. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta. Pustaka Utama

Poloma, Margareth M. 2004. Sosiologi kontemporer. Jakarta: Rajawali

Ibrahim, Jabal T. 2002. Sosiologi Pedesaan. Malang: UMM

Widyanti, Ninik dan Yulius Wastika. Kejahatan dalam masyarakat dan pencegahannya. Jakarta: Bima Aksara

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: