Sinkretisme ritual keagamaan sebagai bentuk dan ciri Islam varian santri di Pantura.

 

            Awal mula Agama Islam masuk ke tanah Jawa yaitu sekitar sebelum abad 15 dihadapkan pada dua lingkungan kebudayaan, yaitu budaya kerajaan Majapahit yang bercorak kejawen Hindu-Budha serta kebudayaan pedesaan yang masih bercorak tradisional. Pada akhirnya terjadilah persinggungan Budaya Islam sebagai pendatang, dan budaya Hindu-Budha Kejawen dan budaya pedesaan sebagai  ciri khas lokal. Dengan demikian terjadilah akulturasi dua nilai yang berbeda, namun sama kuatnya. Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membuat Islam sebagai ajaran agama dan Jawa sebagai entitas budaya menyatu. Akulturasi yang berusaha memadukan dua ajaran itulah yang dalam khazanah studi budaya dimanakan sinkretisme.

Mudahnya masyarakat Jawa menerima Islam sebagai ajaran agama disebabkan karena pertama, perluasan ajaran agama Islam di Jawa yang disebarkan dengan cara-cara yang moderat dan adaptatif sesuai keadaan lingkungan dan budaya etnisitas masyarakat Jawa pada masa itu. Kedua, karena masih kentalnya nilai masyarakat Jawa tentang tepo seliro terhadap ajaran lain. Lambat laun hal ini menimbulkan adanya suatu perpaduan yang sinkretik antara ajaran Hindu Jawa dan ajaran Islam di  tanah Jawa. Dalam hal ini sinkretisme merupakan sebuah pendekatan budaya terkait bagaimana nilai-nilai asing memasuki suatu ruang dan pengaruhnya terhadap budaya yang berbeda.Dan pada akhirnya, hal inilah yang menjadikan corak Islam di Jawa menjadi sangat khas dan jauh berbeda dengan corak Islam di Timur Tengah.

            Selanjutnya, dalam masyarakat Jawa muncul berbagai varian atau golongan sosial sebagai wujud manifestasi terhadap Islam. Ketiga varian tersebut adalah abangan, santri dan priyayi.  Pada setiap varian tersebut masing-masing mempunyai bentuk dan corak yang berbeda satu sama lainnya dalam pemaknaan agama Islam (Geertz 1959:6).

            Varian abangan merupakan golongan dari masyarakat Jawa yang masih sangat terpengaruh dengan animisme, Hinduisme dan Islam. Pada varian ini, pengamalan rukun Islam tidak dilaksanakan secara utuh dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan doktrin-doktrin Islam yang kental. Sedangkan varian santri merupakan golongan masyarakat yang berusaha melaksanakan ajaran Islam dengan murni dan seutuhnya. Sementara itu, varian yang terakhir adalah priyayi yang merupakan golongan yang mampu menarik garis keturunannya hingga Raja-raja besar di Jawa yang mempunyai pola keagamaan dan tradisi agung yang rumit.

            Timbulnya varian yang berbeda satu sama lain tersebut menjadikan kehidupan  beragama dalam masyarakat Jawa menjadi variatif dan unik. Seringkali pola ritual agama Islam di Jawa yang berakar dari Timur tengah sebagai ajaran agama berdampingan dengan nilai-nilai Jawa sebagai bentuk etnisitas lokal. Hal tersebut terlihat jelas pada varian abangan dan priyayi. Walaupun demikian, pada varian santri yang dianggap sebagai golongan yang benar-benar mengamalkan doktrin Islam secara murni tetap terdapat perpaduan dalam pola ritualnya.

            Pola ritual pada varian santri yang demikian sangat terlihat jelas pada varian santri di daerah Pantai Utara atau Pantura. Pantai Utara yang lebih sering disebut dengan kebudayaan pesisir merupakan bagian kebudayaan Jawa yang membentang dari Gresik,  Kudus, Demak hingga Cirebon. Kota-kota di sepanjang Pantura berkembang sebagai pusat agama Islam di Jawa sejak mulai abad ke 17 hingga ke 18 (Koentjaraningrat, 1994: 18).

            Varian santri sendiri menurut Geertz terbagi atas santri konservatif dan santri modern. Santri yang masih bersifat konservtif didomonasi oleh organisasi NU (Nahdhatul Ulama’), sedangkan organisasi Islam yang lebih modern dipelopori oleh organisasi Muhammadiyah. Menurut Geertz terdapat perbedaan diantara keduanya. Misal pada organisasi            Islam yang bersifat konservatif lebih tradisional dan masih terpangaruh nilai-nilai Jawa walaupun pelaksanaan peribadatan yang pokok tetap sesuai ajaran agama. Dalam pelaksanaan pendidikan pun organisasi Islam konservatif cenderung menggunakan metode belajar di Pondok Pesantren yang masih terlihat sekali corak tradisional dan sederhana. Selain itu, Islam konservatif lebih mentolelir terhadap upacara-upacara golongan abangan. Sebaliknya, pada oraganisasi Islam modernlebih mengutamakan kesempurnaan ajaran Islam secara murni, sehingga kurang mampu mentolelir upacara kaum abangan. Dalam pola pendidikannya kaum santri modern labih mengutamakan pendidikan formal di sekolah.

            Kaitannya dengan hal di atas varian santri di Pantura lebih didominasi oleh organisasi Islam konservatif hingga saat ini.  Dengan kata lain, pengaruh organisasi NU (Nahdatul Ulama) lebih besar daripada organisasi Islam modern (Muhammadiyyah). Hal ini terlihat dalam pola pendidikan agama yang ada di Pantura cenderung didominasi oleh keberadaan Pondok Pesantren, daripada pendidikan agama melalui sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyyah.

            Hal diatas yang  menyebabkan munculnya keunikan tersendiri pada pola ritual keagamaan varian santri di Pantura. Seperti yang sebelumnya telah disampaikan dalam analisis Geertz bahwa panganut Islam konservatif lebih mentolelir upacara-upacara kaum abangan. Upacara-upacara kaum abangan justru masih dilaksanakan hingga saat ini. Bahkan, para kaum santri sendiri telah memodifikasi sedemikian rupa berbagai bentuk upacara kaum abangan menjadi upacara yang lebih bersifat Islami. Dengan kata lain, para kaum santri konservatif cenderung melihat persamaan maksud dan tujuan upacara kaum abangan dengan nilai-nilai dalam Islam, sehingga dapat ditarik menjadi satu benang merah yang maksud dan intinya adalah sama dan tertuang dalam wujud pola ritual yang sinkretik.

            Terdapat berbagai macam ritual kaum abangan yang dimodifikasi oleh kaum santri konservatif, sehingga terkesan menjadi ritual yang Islami namun tanpa menghilangkan ciri khas masyarakat Jawa. Misalnya pada upacara tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, mendak dan nyewu setelah kematian. Berkaitan dengan ini, Geertz mengidentifikasikan ritual ini sebagai ritual kaum abangan. Namun yang terjadi di daerah Pantura kaum santri konservatif juga melaksanakan hal tersebut, walaupun  do’a-do’a yang dilantunkan adalah do’a Islam. Bahkan saat meninggalnya Kyai besar atau ulama’ dari kaum santri  konservatif, ritual tersebut juga tetap dilaksanakan. Dalam hal ini maka dapat terlihat dengan jelas bahwa nilai-nilai Islam tentang do’a dan birrur walidain (bentuk penghormatan kepada orang tua) berbaur menjadi satu dengan ritual kaum abangan untuk menghormati para leluhur sebagai bentuk manifestasi terhadap nilai budaya Jawa, Sehingga menghasilkan ritual agama Islam yang sarat dengan budaya Jawa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar berikut:

 

 

 

 
   

 

 

 

 

                                                                                                                                

 

 

 

Pola ritual yang demikian tidak hanya terlihat dalam upacara 7 hari hingga nyewu. Namun juga terlihat pada pola-pola ritual yang lainnya seperti pada ritual mitoni, tingkepan, puputan, pemberian nama dsb. Pada ritual mitoni misalnya, dalam kepercayaan Jawa saat kandungan mulai tua harus diberi bemberkahan supaya terhindar dari marabahaya. Sedangkan dalam Islam saat kandungan usia tua orang tua hendaknya mendoakan kandungannya supaya sehat dan selamat saat lahir, serta sebagai wujud syukur karena telah diberi amanah oleh Tuhan. Perpaduan diantara keduanya mewujudkan ritual mitoni dengan lantunan sholawat nabi dan pembacaan sejarah nabi Muhammad SAW.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola ritual keagamaan sering kali dipengaruhi oleh sistem nilai budaya lokal dan ajaran agama. Dengan adanya pengaruh tersebut akan memunculkan sinketisme. Pada akhirnya akan menghasilkan pola-pola ritual baru yang memperlihatkan ciri-ciri dari kedua nilai tersebut. Hal ini yang terjadi pada kaum santri di Pantura.

                                                                                                                 

                                                                   

             

             

           

DAFTAR PUSTAKA

 

Geertz, Clifford. 1959. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta:Pustaka Jaya.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka.

 

http://bangunaninteletual.wordpress.com/category/makalah/

http://www.slideboom.com/presentations/513841/MASUKNYA-ISLAM-KE-INDONESIA INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: