Proposal Metode Penelitian Pendidikan

 A.      JUDUL PENELITIAN

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PELAYANAN PENDIDIKAN DI RAUDATUL ATFAL (RA) NAHDATUL ULAMA (NU) NAWA KARTIKA DESA GRINGSING KEC. GRINGSING KAB. BATANG

B.       LATAR BELAKANG

Layanan pendidikan pada anak usia dini merupakan salah satu bentuk pencapaian pendidikan nasional yang telah diatur pada UU No 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yang berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang seutuhnya. Maksud dari manusia Indonesia yang seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Selain itu, dalam Undang-Undang no. 20 tahun 2003 juga memuat pendidikan pada anak usia dini. Dalam Undang-Undang ini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir hingga usia enam tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan yang berguna untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, serta mempersiapkan peserta didik untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih lanjut.

Pada no.28 Undang-undang sistem pendidikan tahun 2003 menyatakan dan menguraikan beberapa ketentuan Pendidikan Anak Usia Dini yang antara lain:

  1. Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum anak masuk pendidikan dasar.
  2. Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan melelui pendidikan formal maupun nonformal.
  3. Pendidikan Anak Usia Dini berbentuk formal berupa Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA).
  4. Pendidikan Anak Usia Dini berbentuk nonformal berupa Kelompok Bermain (Play Group) dan Tempat Penitipan Anak (TPA).
  5. Pendidikan Anak Usia Dini berbentuk informal adalah berbagai macam pendidikan dan penanaman nilaidan norma kepada anak melalui keluarga.

Usia dini merupakan suatu usia yang sangat penting bagi seorang individu, karena dalam usia ini individu mengalami perkembangan otak yang sangat pesat. Sekitar 80% perkembangan otak manusia terjadi pada saat usia dini. Pada saat bayi lahir otak berkembang hingga 25%, hingga usia 4 tahun otak manusia berkembang hingga 50% dab hingga usia 8 tahun otak berkembang hingga 80%. Pada saat usia dini inilah sering disebut sebagai usia emas mengingat perkembangan otak manusia yang demikian pesat pada usia ini.

Raudatul Athfal (RA) sebagai salah satu bentuk Pendidikan anak usia dini setingkat dengan Taman Kanak-kanak(TK) yang bersifat formal yang bernaung dibawah pengelolaan kementerian agama. Seperti halnya dengan Taman Kanak-kanak (TK), Lembaga ini juga berfungsi untuk memberikan pelayanan bagi anak usia dini dengan merangsangnya melalui pendidikan untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani anak didiknya. Namun, di Raudatul athfal ini anak didik lebih diajarkan dan ditanamkan nilai-nilai agama Islam yang tentunya berbeda dibandingkan dengan Taman Kanak-kanak pada umumnya.

Dalam masyarakat yang masih bercorak pedesaan pun saat ini telah mengenal Pendidikan Anak Usia Dini. Salah satunya di desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang. Pada wilayah yang terletak di perbatasan Kab. Batang dan Kab. Kendal ini terdapat beberapa Pendidikan anak usia dini. Salah satunya adalah Raudatul Athfal (RA) Nawa Kartika. Keberadaan lembaga ini dibawah pengelolaan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (Nahdatul Ulama’). Ma’arif sendiri merupakan sebuah Lembaga yang bergerak di bidang keilmuan dan kebudayaan dibawah organisasi Nahdatul Ulama’ (NU).

Karena berada dibawah naungan organisasi Nahdatul Ulama’ tentunya dalam program pendidikannya tentu sangat dipengaruhi oleh organisasi tersebut dan sangat berbeda dengan lembaga pendidikan anak usia dini yang lain. Penanaman nilai-nilai agama Islam berbasis Nahdatul Ulama’ jugs diajarkan kepada anak didiknya. Hal ini tentunya akan menimbulkan berbagai macam persepsi di masyarakat setempat.

Dengan demikian, maka setiap individu dalam masyarakat akan mempunyai persepsi  yang berbeda dengan yang lain. Sebagian masyarakat mungkin setuju dan menganggap penanaman nilai yang demikian akan membentuk kepribadian anak yang bermoral dan berakhlak mulia sesuai dengan tuntunan agama. Namun sebagian masyarakat lain juga tentunya mempunyai persepsi yang berbeda.

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas membuat peneliti tertarik untuk mengkaji tentang hal tersebut, sehingga peneliti menyusun penelitian yang berjudul “Persersi Masyarakat Terhadap Program Pelayanan Pendidikan Di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang”.

 


C.       RUMUSAN PERMASALAHAN

Dari latar belakang di atas maka dapat ditarik beberapa rumusan permasalahan antara lain:

  1. Bagaimana program pelayanan pendidikan yang diterapkan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang?
  2. Apa penyebab munculnya perbedaan persepsi masyarakat terhadap program pelayanan pendidikan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang?
  3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap program pelayanan pendidikan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang?

D.       TUJUAN PENELITIAN

    1. Untuk mengetahui bagaimana program pelayanan pendidikan yang diterapkan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang.
    2. Untuk mengetahui penyebab munculnya perbedaan persepsi masyarakat terhadap program pelayanan pendidikan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang.
    3. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap program pelayanan pendidikan di Raudatul Athfal (RA) Nahdatul Ulama (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing Kec. Gringsing Kab. Batang.

 E.       MANFAAT PENELITIAN

Dari penelitian ini maka manfaat dapat dilihat dari dua segi, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis.

  1. Manfaat Teoretis

Memberikan sumbangan kepada ilmu sosiologi dan pendidikan. Dengan adanya penelitian ini maka akan menambah pengembangan ilmu sosiologi.

  1.  Manfaat Praktis
  2. Bagi penulis. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis terutama tentang persepsi masyarakat terhadap program pelayanan pendidikan.
  3. Bagi kalangan akademik. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.
  4. F.       PENEGASAN ISTILAH
    1. Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses pemahaman dalam diri individu terhadap suatu objek. Kemudian hasil pemahaman tersebut dinilai oleh masing-masing individu, sehingga antara satu individu satu dengan yang lain menaghasilkan persepsi yang berbeda.

2. Program pendidikan

Pendidikan merupakan proses dimana seorang undividu memperoleh pengalaman dan informasi berupa nilai-nilai, norma dan ilmu pengetahuan melalui proses belajar.

Menurut Crow dan Crow pendidikan merupakan proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budat serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi.

Menurut kamus umum Bahasa Indonesia program merupakan suatu rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dijalankan.

Dengan demikian program pendidikan dapat diartikan sebagai rancangan mengenai asas serta usaha dalam menjalankan pendidikan. Dalam penelitian ini, maka program pendidikan yang dimaksud adalah rancangan yang ajkan diterapkan pada proses pembelajaran siswanya.

3. Raudatul Athfal

Raudatul Athfal merupakam jenjang pendidikan anak usia dini (yakni usia 6 tahun dan dibawahnya) yang setara dengan Taman Kanak-kanak (TK) dalam bentuk pendidikan formal, dibawah pengelolaan kementerian agama. Kurikulum dalam RA ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani supaya anak lebih memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut.

G.      TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupeken suatu bagian yang penting dalam penelitian. Tinjauan pustaka merupakan review dari penelitian sebelumnya dengan tema sejenis yang  kemudian digunakan sebagai acuan dalam penelitian yang akan dilakukan. Hal ini penting untuk mengetahui kedudukan hasil penelitian terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, agar penulis dapat melihat kedudukan dari penelitian yang lakukan dan tidak terjebak pada pendangan yang sempit.

Penelitian yang mengkaji tentang persepsi masyarakat sudah pernah dilakukan oleh oleh beberapa peneliti lain. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rosalinda (2006) dengan skripsinya yang berjudul “persepsi sekolah dan masyarakat terhadap efektifitas biaya Biaya Operasional Sekolah (BOS) terhadap peningkatan mutu pendidkan” menunjukkan bahwa dalam sekolah maupun masyarakat terdapat perbedaan persepsi dan tentang efektifitas BOS sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan yang murah di Indonesia. Dalam peneliian ini analisis yang digunakan menggunakan disiplin ilmu hukum dan ilmu pemerintahan.

Penelitian diatas  tentunya berbeda dengan penelitian ini. Perbedaannya antara lain pada penelitian diatas mencoba memahami persepsi pihak sekolah dan masyarakat. Sedangkan pada penelitian ini  hanya memfokuskan diri pada persepsi masyarakat saja. Selain itu terdapat perbedaan lain yaitu berupa analisis yang dilakukan. Pada penelitian diatas permasalahan yang ada dianalisis sesuai disiplin ilmu hukum dan pemerintahan. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis permasalahan dengan berdasarkan disiplin ilmu sosiologi.


H.      LANDASAN TEORI

1)   Persepsi

a.    Pengertian persepsi

Persepsi merupakan proses internal yang dilakukan untuk memilih,  mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain persepsi merupakan suatu cara mengubah energi-energi lingkungan fisik menjadi pengalaman yang bermakna. Persepsi menentukan komunikasi seorang individu, jika persepsi tidak akurat maka komunikasi yang terjadi menjadi tidak efektif. Apabila semakin tinggi kesamaan persepsi antar individu maka semakin mudah pula komunikasi yang terjalin. Pada akhirnya akan terbentuklah kelompok budaya dan kelompok identitas yang terdiri atas individu-individu dengan persepsi yang sama.

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului penginderaan yaitu suatu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh indra melalui alat reseptornya. Sehingga individu menyadari apa yang dilihat, didengar dan sebagainya (Walgito, 1989:50).

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, persepsi dapat diartikan sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu serapan, proses, mengetahui beberapa hal melalui panca indera manusia. Beberapa ahli mengemukakan persepsi sebagai suatu proses diterimanya suatu rangsangan yang telah disadari dan dimengerti (objek, kualitas, hubungan antar gejala maupun peristiwa) sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti (Irwanto, 1989:17).

Menurut Maskowits dan Orgel (dalam Walgito, 2003:88), persepsi merupakan proses yang terintegarasi dalamindividu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus melalui inderanya sehingga merupakan sesuatu yang bermakna dan merupakan respon yang mengkaitkan dengan stimulus. Sedangkan dalam persepsi orang akan mengkaitkan dengan objek (Branca, dalam Walgito,2003:88).

Persepsi juga dapat diartikan sebagai proses psikologis dari hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Oleh karena itu persepsi merupakan kesan pertama untuk  suatu keberhasilan (Walgito, 1981:22)

Persepsi seseorang dapat dipengaruhi oleh dalam menangkap informasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

  1. Orang yang membentuk persepsi itu sendiri, hal ini menyangkut kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, minat, sikap, motivasi, harapan dan pengalaman masa lalu, dan kepribadian)
  2. Stimulus, yaitu berupa objek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain)
  3. Stimulus dimana pembantukan persepsi itu terjadi (tempat, waktu dan suasana)

Terdapat perbedaan antara satu individu dengan individu lain mengenai hasil persepsi tersebut. Perbedaan tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

  1. Perhatian, sebagian individu tidak menangkap keseluruhan rangsangan yang ada secara sekaligus, tetapi memfokuskan perhatian hanya pada satu atau dua objek saja. Perbedaan fokus yang demikian ini menyebabkan pebedaan persepsi antar individu.
  2. Set, merupakan harapan sesorang akan rangsangan yang akan timbul. Terkadang apa yang diharapkan individu satu dengan yang lain berbeda.
  3. Kebutuhan, merupakan kebutuhan-kebutuhan sesaat yang ada dalam diri individu akan mempengaruhi persepsi individu tersebut. Dengan demikian kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi pula.
  4. Ciri kepribadian individu berpengaruh terhadap persepsi masing-masing individu

Dari berbagai pendapat dan uraian diatas dapat dipahami bahwa persepsi merupakan suatu proses pemahaman dalam diri individu terhadap suatu objek. Kemudian hasil pemahaman tersebut dinilai oleh masing-masing individu, sehingga antara satu individu satu dengan yang lain menaghasilkan persepsi yang berbeda. Persepsi selalu ada dalam kehidupan manusia, karena merupakan penentu keefektivan komunikasi antar individu.

b.   Syarat-syarat terjadinya persepsi

Ada beberapa syarat sebelum individu mengadakan persepsi, antara lain: adanya objek (sasaran yang akan diamati), objek akan menimbulkan stimulus atau rangsangan apabila ditangkap oleh alat indera atau reseptor (Walgito 1989:70).

Supaya lebih jelas uraian dari syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Adanya objek

Objek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau rangsangan pada alat indera. Dalam hal ini adalah persepsi masyarakat terhadap program pendidikan anak usia dini di Raudatul Athfal (RA) Nahdlatul Ulama (NU) Nawa Kartika.

  • Adanya alat indera

Alat indera berguna untuk menerima stimulus yang kemudian akan diterima oleh syaraf sensorik dan selanjutnya akan disampaikan ke susunan syaraf pusat. Dengan demikian, masyarakat dengan alat indera yang baik akan menerima stimulus dan diteruskan ke susunan syaraf otak dengan baik pula.

  • Adanya perhatian

Perhatian merupakan langkah awal bagi individu untuk mengadakan persepsi. Dalam hak ini perhatian masyarakat terhadap program pendidikan di Raudatul Atfal merupakan awal munculnya persepsi dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam memperhatikan suatu objek individu akan lebih mengerti ketika perhatian tersebut benar-benar disadarinya. Semakin individu tersebut memperhatikan objek yang ada maka objek tersebut menjadi semakin jelas dan semakin disadari oleh individu. Jadi, apa yang diperhatikan pasti benar-benar disadari dan terletak dalam pusat kesadaran. Namun sebaliknya, apabila individu tersebut kurang memperhatikan objek, maka hal tersebut menjadi kurang disadari.

c.    Proses terjadinya persepsi

Penginderaan terhadap suatu objek ataupun benda akan menghasilkan kesan dari stimulus-stimulus. Proses terjadinya persepsi ini dimulai dengan yang pertama yaitu proses fisik yaitu stimulus mengenai reseptor, kemudian diikuti dengan proses fisiologis stimulus yang diterima oleh reseptor akan dikirim ke syaraf sensorik menuju otak. Stimulus-stimulus yang diterima dip roses di otak sebagai pusat kesadaran, maka individu akan memehami apa yang dirasakan melalui alat indera. Kesadaran tentang objek berupa apa yang dilihat, didengar, diraba, dirasa. Proses inilah yang disebut sebagai proses persepsi yang sebenarnya (Walgito,2002:71).

Sedangkan menurut Hilgrad dan Atkinson mengemukakan bahwa cara pandang individu akan timbul setelah adanya respon, stimulus yang diterima otak sangatlah kompleks. Kemudian otak akan mengartikan dan menafsirkan dan diberi makna, melalui proses yang rumit tersebut persepsi dapat dihasilkan.

(http://www.damandiri.or.id/file/Setiabudiipbtinjauanpustaka.pdf).

Ada dua faktor yang mempengaruhi perhatian:

  1. Faktor eksternal

Meliputi intensitas (ukuran), kontras, kuat lemahnya rangsangan, gerakan dan pengulangan.

  1. Faktor intern

Meliputi motif, kesediaan, dan harapan.

Sedangkan menurut Mead dalam Ritzer (2004: 274). Persepsi diawali dengan adanya impuls atau dorongan hati yang meliputi stimulasi atau rangsangan spontan yang berhubungan dengan alat indera dan reaksi individu terhadap rangsangan dan kebutuhan untuk bertindak terhadap rangsangan itu. Kemudian pada proses selajutnya individu tersebut akan menyelidiki dan bereaksi terhadap rangsangan itu yang melibatkan citra mental yang ditimbulkannya, proses inilah yang disebut dengan persepsi.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa proses terjadinya persepsi dimulai karena adanya proses penginderaan individu terhadap objek atau benda yang akan memberikan stimulus. Stimulus tersebut akan diteruskan ke otak sebagi pusat kesadaran. Dengan adanya proses tersebut, kemudian individu akan menyadari tentang apa yang diamati sehingga mampu memberikan makna atau tafsiran. Dalam penelitian ini masyarakat desa Gringsing akan mempersepsi tentang program pendidikan di Raudatul Atfal (RA) NU Nawa Kartika. Sehingga masyarakat dapat memberikan penafsiran dan pemaknaan mengenai hal tersebut.

d.   Prinsip-prinsip persepsi

Seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2003:103) persepsi mempunya beberapa prinsip dasar sebagai berikut

  1. Persepsi bersifat relatif

Setiap individu tidak mampu menyerap segala sesuatu yang sifatnya sama dengan keadaan sebenarnya. Atau dengan kata lain bahwa dampak perubahan yang dirasakan melalui rangsangan awal dirasakan lebih besar dibandingkan rangsangan yang selanjutnya.

  1. Persepsi bersifat selektif

Individu hanya memperhatikan sebagian rangsangan saja dari berbagai rangsangan yang ada disekelilingnya. Ini berarti bahwa rangsangan yang diterima tergantung dengan apa yang individu tersebut pelajari, pada suatu saat menarik perhatiannya, dan kearah mana persepsi tersebut mempunyai kecenderungan.

Menurut Horton (1994:7) persepsi berrsifat selektif adalah kecenderungan untuk hanya melihat dan mendengar fakta yang menunjang keyakinan individu dan mengabaikan yang lainnya.

  1. Persepsi mempunyai tatanan

Rangsangan akan diterima individu dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Apabila rangsangan yang datang tidak lengkap, maka individu tersebut akan melengkapinya sehingga hubungan menjadi jelas.

  1. Persepsi dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan

Harapan dan kesiapan individu akan memilih rangsangan mana yang akan diterima. Selanjutnya rangsangantersebut akan ditata daan diinterpretasi.

  1. Persepsi individu dan kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi individu atau kelompok lain meskipun dalam situasi yang sama.

Perbedaan persepsi pada individu terkait dengan kepribadian, perbedaan sifat dan motivasi. Sedangkan perbedaan persepsi antar kelompok terjadi karena adanya perbedaan kebudayaan dalam kelompok-kelompok tersebut. Dalam penelitian ini persepsi yang terjadi dalam masyarakat terhadap keberadaan program pelayanan pendidikan di Raudatul Alhfal (RA) Nahdatul Ulama’ (NU) Nawa Kartika Desa Gringsing, Kec. Gringsing, Kab. Batang berbeda antara satu individu dengan individu lain.

e.    Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Terbentuknya peraepsi dalam diri individu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut David Krech dan Richard Cruthfield dalam Rahmat (2000;52) ada dua faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor fungsional dan struktural:

  1. Faktor fungsional

Merupakan faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang menyangkut faktor personal. Faktor personal adalah karakteristik orang yang memberikan respon ada stimulus tersebut. Dengan demikian, maka berat ringannya pemilaian terhadap suatu objek tergantung pada rangkaian objek yang dinilainya, dan dipengaruhi pula oleh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang budaya.

  1. Faktor stuktural

Merupakan faktor-faktor yang berasal hanya dari sifat stimuli fisik dan efek-efek yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu. Sesuai dengan yang dirumuskan dalam teori Gestalt yaitu ketika memehami persepsi hendaknya dipandang sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, bahwa untuk memahami peristiwa harus secara utuh dalam hubungan keseluruhan, bukan melihat faktor-faktornya secara terpisah.

  1. KERANGKA BERFIKIR

Masyarakat setuju dengan program pendidikan di RA, dan memilih RA sebagai pendidikan anak usia dini bagi anaknya

Masyarakat kurang setuju dengan program pendidikan di RA , dan memilih pendidikan anak usia dini selain RA badi anaknya

 

Berdasarkan dari kerangka berfikir diatas, penelitian ini melihat dengan munculnya RA Nawa Kartika di Desa Gringsing, Kec. Gringsing, Kab. Batang, dimana keberadaannya dibawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU pada akhirnya memunculkan perserpsi dalam masyarakat. Sesuai dengan teori persepsi. Bahwa dalam sebuah masyarakat antar satu individu akan dengan individu lain akan  menghasilkan persepsi yang berbeda, walaupun objeknya sama. Perbedaan persepsi dalam masyarakat akan menimbulkan pula perbedaan yang lain. Hal tersebut tersebut berupa perbedaan pendapat di masyarakat. Pada akhirnya sebagian masyarakat memilih RA sebagai pelayanan program pendidikan anak usia dini bagi anaknya, dan sebagian lain memilih memberikan pelayanan pendidikan anak usia dini bagi anaknya melelui lembaga lain.

  1. METODE PENELITIAN
  1. Dasar Penelitian

Dasar yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan dasar metode penelitian kualitati, penelitian kualitatif tidak bertujan menlakukan pengukuran atau tidak menggunakan prosedur-prosedur statistik menjelaskan hasil penelitian  (Djojomartono, 1995:4).

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2004:4) mendefininisiksn penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang mnghasilkan data deskriptif yang berupa tulisan maupun lisan bersumber dari perilaku orang-orang yang diamati.

  1. Lokasi Penelitian

Dalam Penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Gringsing. Desa ini merupakan salah satu desa yang ada Kecamatan Gringsing. Letaknya berada di perbatasan Kabupaten Batang dan Kendal, namun secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Batang. Dipilihnya Desa Gringsing sebagai lokasi penelitian, karena di lokasi tersebut terdapat Raudatul Athfal (RA) yang bernaung dibawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdatul Ulama (NU). Program pelayanan pendidikan yang diterapkan di RA tersebut tentu berbeda dengan Taman Kanak-kanak (TK). Dengan demikian maka akan meninbulkan berbagai macam persepsi dalam masyarakat.

  1. Fokus Penelitian

Fokus penelitian merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif. Karena suatu penelitian tidak dapat dimulai tanpa adanya masalah, baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman penelitian, maupun permasalahan  yang diperoleh melalui kepustakaan ilmiah. Jadi fokus penelitian dalam penelitian kualitatif sebenarnya merupakan masalah itu sendiri (Moleong 2002: 62)

Dalam penelitian ini peneliti berfokus pada:

  1. Program pelayanan pendidikan di RA NU Nawa Kartika.
  2. persepsi masyarakat, penyebab munculnya persepsi masyarakat perbedaan persepsi antar individu dalam masyarakat.
  3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian merupakan orang yang hendak diteliti  dalam berjalannya sebuah penelitian. Keberadaan subjek penelitian adalah hal yang sangat mutlak diperlukan. Namun adakalanya juga subjek penelitian tidak dibutuhkan dalam sebuah penelitian, tapi hal itu sangatlah jarang terjadi. Secara keseluruhan subjek merupakan hal yang pokok perlu ada pada sebuah penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat Desa Gringsing, Kecamatan Gringsing, Kab. Batang.  Serta sebagian masyarakat yang memilih RA Nawa Kartika sebagai pelayanan program pendidikan anak usia dini bagi anaknya.

Informan Penelitian

Informan penelitian adalah orang-orang yang mampu memberikan data tambahan atau informasi tambahan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini yang berfungsi sebagai informan adalah para pengajar yang ada di RA NU Nawa Kartika Desa Gringsing, Kec. Gringsing, Kab. Batang. Sebagai informan pengajar di RA Nawa Kartika akan memberikan penjelasan dan informasi mengenai pelayanan program pendidikan yang diterapkan di RA tersebut.Sumber Data

Data Primer

Yaitu data yang langsung diperoleh dan dikumpulkan dari objek penelitian. Data ini dapat diperoleh melalui wawancara dengan responden dan informan yang ada di lapangan. Dalam penelitian ini data primer dapat diperoleh melalui wawancara langsung dengan masyarakat di Desa Gringsing, Kec. Gringsing, Kab. Batang.

Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung. Dalam hal ini pengembilan data sekunder tidak harus dengan mengambil secara langsung di lapangan penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini dapat diperoleh melalui buku-buku, dokumen-dokumen dan hasil penelitian serta sumber-sumber lain yang relevan.

Teknik Pengambilan Data

  • Observasi (pengamatan)

Menurut Sutrisno Hadi (dalam Sugiyono 2010:203) observasi merupakan proses yang kompleks tersusun dari proses biologis dan psikologis, dan yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.

Dengan observasi atau pengamatan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan oleh subjek, sehingga memungkinkan pula peneliti menjadi sumber data (Moleong 2004:175).

Observasi atau pengamatan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati program pelayanan pendidikan di RA NU Nawa Kartika Desa Gringsing. Pengamatan program pelayanan pendidikan dilakukan dengan cara mengamati kegiatan belajar mengajar di RA tersebut. Kemudian melakukan pencatatan terhadap apa yang ditemukan di lapangan.

  • Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung kepada responden untuk mendapatkan informasi.Wawancara juga dapat diartikan sebagai proses interaksi dan komunikasi secara langsung antara peneliti dan responden (Singarimbun: 1989:192).

Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada masyarakat, baik orang tua murid maupun bukan. Selain itu, juga mewawancarai guru RA NU Nawa Kartika Desa Gringsing untuk mengetahui informasi tentang program pelayanan pendidikan.

  • Dokumentasi

Selain peneliti menggunakan teknik observasi, dan wawancara didalam pengumpulan data, peneliti  juga menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa tertentu yang sesuai dengan apa yang menjadi kajian dari peneliti dilapangan. Misalnya saja dalam bentuk foto atau rekaman maupun video.Teknik Analisis Data

Bogdan dalam  Sugiyono ( 2010:334) menyatakan bahwa analisis data kualitatif  merupakan suatu proses pencarian dan penyusunan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan bahan-bahan lainnya secara sistematis agar. Hal tersebut dimaksudkan supaya temuan yang ada  dapat dipahami dan dimengerti sehingga temuan tersebut dapat diinformasikan kepada orang lain.

Dalam penelitian kualitatif  analisis data  sifatnya lebih induktif, artinya analisis berdasarkan data yang telah diperoleh kemudian dikembangkan menjadi pola hubungan tertentu dan menjadi sebuah hipotesis. Hipotesis yang telah didapatkan, akan dikaji kembali. Dalam penelitian kualitatif  hipotesis yang diterim akan berkembang menjadi teori (Sugiyono 2010: 335)

 Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalisa dalam bentuk deskripsi fenomena tidak berbentuk angka atau koefisien tentang hubungan antar variabel, sehingga tidak membutukan analisis secara statistik. Patton dalam Moleong (2000:103) ,tahapan analisa data adalah sebagai berikut:

a)        Pengumpulan data

Pada saat pengumpulan data , peneliti mencatat semua data secara obyektif, sehingga apa yang dicatat sesuai dengan data dari hasil observasi dan wawancara di lapangan.

b)        Reduksi data

Jumlah data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak, untuk itu maka peneliti perlu mencatat secara rinci. Reduksi data adalah memilih hal-hal pokok yang kemudian difokuskan pada hal-hal yang penting, sehingga hal-hal yang atau tidak terkait dengan permasalah penelitian dapat dihilangkan.

c)        Penyajian data

Setelah mereduksi data, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data dalam penetian kualitatif  dapat  berupa uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sebagainya. Teks naratif juga sering dalam penyajian data penelitian kualitatif.

d)       pengambilan keputusan atau verifikasi

verifikasi merupakan proses pemeriksaan terhadap hasil penelitian. Hal ini berguna untuk mengetahui benar tidaknya hasil  penelitian yang telah direduksi. Demikian maka dapat dibuat kesimpulan yang dapat dipercaya kebenarannya.

Validitas Data

Dalam hal pengujian validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sumber lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan dan sebagai pembanding (Moleong, 2005:330).

Denzin dalam Moleong ( 2005:331) membedakan adanya empat teknik triangulasi, yaitu menggunakan sumber lain, metode, penyidik, dan teori. Teknik triangulasi data yang sering digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lain. Kaitannyan dengan  penelitian ini, pengecekan dilakukan pada subjek penelitian yaitu masyarakat yang didalamnya juga sebagian orang tua yang mempercayakan pelayanan program pendidikan di RA Nawa Kartika bagi anaknya

DAFTAR PUSTAKA

Horton, Paul B dan Chester L Hunt. 1984. Sosiologi Edisi keenam. Jakarta: Erlangga

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Munib, Ahmad dkk. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS

Rahman, Hibana. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI Press

Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009.  Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS

Ritzer, George dan Douglass J Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta:Pustaka LP3ES

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Undang-undang RI. 2003. Sitem Pendidikan Nasional. Jakarta: Dharma Bhakti

Walgito, Bimo.2003. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: ANDI

http://pendidikananakprasekolah.blogspot.com

http://www.damandiri.or.id/file/Setiabudiipbtinjauanpustaka.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: